Jumat, 22 Februari 2013

Pendampingan Masyarakat

STRATEGI PEMBERDAYAAN

SEBAGAI MEDIA PENDAMPINGAN MASYARAKAT

Fajar Sudarwo

Mengapa Pemberdayaan Lahir?

Ketika tahun 1939 krisis ekonomi melanda dunia, semua orang berteriak bahwa kapiatalis / pasar telah gagal ‘mensejahterakan’ rakyat dunia. Salah satu pemikir di Ingrris Keyness yang menyerukan bahwa sebaiknya kesejahteraan rakyat dunia akan lebih baik diserahkan rakyat sendiri melalui institsu negara. Kemudian Presiden Amerika Serikat Truman menyambut dengan mengeluarkan ide development sebagai instrumen negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Ide besar ini dilegitimasi oleh Persatuan Bangsa Bangsa menjadi mandat utama dan bagian struktur organisasi yang tidak terpisahkan dengan nama UNDP (Unity Nation Development Program)

Persoalannya ketika UNDP menggunakan acuan modernisasi sebagai dasar developmenatisme nya maka, pelan dan pasti wacana dan dominasi pasar masuk kemabali melalui mekanisme negara. Sehingga negara negara yang menggunakan developmentalisme sebagai haluan programnya justru menjadi korban pertam kalinya. Indonesia menjadi salah satu korban developmentalisme yang paling kongkrit di depan mata kita. Lihat saja bagaiman kondisi bangsa ini saat sekarang? Pengangguran semakin meningkat, jurang perbedaan kaya dan miskin semakin lebar, tingkat ketergantungan dengan kapital dan organisasi Internasional sangat tinggi, sampai kita berada diambang batas kehancuran sebagai bangsa dan negara. Bahkan yang sangat memprihatinkan developmentalisme ini menjadi alat dan amunisi negara untuk menghegemony rakyat nya, sehingga hak hak dasarnya sebagai warganegara begitu saja dilindas untuk kepentingan rezim yang berkuasa.

Ketika developmentalisme yang acuan utamanya modernisasi ternyata tidak membawa ‘kesejahteraan’ justru menghantarkan ke jurang krisis multy dimensi, maka masyarakat dunia termasuk Indonesia khususnya dari kalangan Non Government Organization (NGO) mencoba mengembangkan kerangka kawasan berpikir (paradigma) empowerment approach sebagai alternatip mengerem proses kehancuran rakyat akibat developmentalisme itu.

Apa itu Pemberdayaan?

Divinisi pemberdayaan sangat discussing untung menyamakan persepsi dan konsepnya, namun pada intinya elemen pemberdayaan adalah bagian dari new social movement paradigm ( Paradigma gerakan social baru). Diaman ada proses rakyat memperkuat dirinya dalam rangka perubahan dari dalam untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Oreintasi dan acuan dasar pemberdayaan adalah bukan modernisasi tetapi kepada pengatualisasian nialai nila local (indigenous value), Pengetahuan dan ilmu local (indigenous knowledge) dan ketrampilan dan teknologi local (indigenous skill and technology). Sedangkan aspeknya ada lima yang menyatu dan tidak terpisahkan, yaitu:

Pertama, aspek basic need providing, dimana kebutuhan dasar adalah bagian yang harus dicukupi untuk semua orang di muka bumi ini. Kebutuhan dasar ini meliputi; (1) Kesehatan, (2) Pangan, (3) Sandang, (4) Perumahan, dan (5) Pendidikan. Lima kebutuhan dasar ini menggunakan indicator dan parameter local sebagai ukuran dasarnya. Sehingga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar disetiap komunitas sangat relatif dan berbeda satu sama lain.

Kedua, Kesadaran dan pikiran kritis, dimana setiap manusia didodorng mempunyai kesadaran dan pikiran kritis untuk memahami relaita social, ekonomi, dan politik secara tajam. Hal ini penting untuk melihat posisi dan out put kinerjanya apakah merupakan bagian penindasan structural atau bagaian proses pemandirian. Sehingga dapat mengkalkulasi semua fenomena social dalam perspektip siapa yang diuntungkan siapa yang dirugian, apakah ada proses pembodohan dan hegemony atau proses pemerdekaan diri?

Ketiga, Akses kepada sumber sumber daya yang ada. Persoalan masyarakat pada umumnya adalah kurangnya akses kepada berbagai suberdaya yang dapat mensuport kepentingan kehidupannya. Oleh karena itu elemen pemberdayaan salah satunya adalah kemampuan mengakses berbagai sumberdaya yang mendukung hidupnya, seperti sumber daya pendidikan, sumber daya ekonomi, sumber daya keuangan (Bank) dan lain sebagainya.

Keempat, aktip berpartisipasi dalam organisasi rakyat. Hal ini menjadi elemen penting dalam pemberdayaan. Karena organisasi rakyat adalah merupakan elemen setrategis, yaitu : (1) Sebagai media belajar (public education). Dimana masyarakat akan terus menerus membelajari dirinya melalui sesama wagra dalam merespon berbagai dinamika kehidupannya. (2) Sebagai media membagun relasi yang adil (equality reltionship). Hal ini penting untuk melatih perilaku demokratis, non patron clean, non patriarchy dan non nepotism, dan tidak anarkhis. (3) untuk membela dirinya (advonkasi) dalam memperthankan hak hak dasaranya sebagai manusia (HAM) dan hak hak politik, social, budaya sebagai warganegara.

Kelima, kemampuan social control and policy control. Salah satu gerakan pemberdayaan rakyat, elemennya adalah ada gerakan kontrol social untuk menjaga norma dan nialai kepada keberadaan entitas budaya setempat. Hal ini penting untuk proses pelestarian budaya. Namun juga ada kemampuan mengontrol kebijakan untuk membangun penegakan dan kepastian hokum formal. Hal ini sangat relevan dan penting mengingat penegakan dan kepastian hokum justru sering ditumbangkan oleh para pengambil keputusan dan pemegang kekuasaan. Oleh karena itu rakyat harus bergerak untuk menyelamatkan dan menegakan hokum itu sendiri secara konstitusional dan non kekerasan.

Lima elemen pemberdayaan di atas tidak berhukum prirek, namun mekanisme kerjanya mengikuti mekanisme spiral. Dimana lima elemen tersebut bekerja dan bergerak secara simultan dan longitudinal satu sama lain. Hal ini penting untuk menghindari dalam proses pendampingannya di lapangan.

Apa Fungsi Strategis Pemberdayaan?

Secara sosiologis persoalan masyarakat ada tiga kawasan, yaitu: (1) Kawasan teknis yang berhubungan dengan sumberdaya manusia. (2) Kawasan idiologis yang berhubungan dengan visi dan misi masa depan dirinya dan aktualisasi budayanya(3) Kawasan structural yang ada hubungannya dengan system dan struktur yang mendominasi dirinya.

Paradigma pemberdayaan ternyata medukung rakyat untuk menghadapi tiga kawasan persoalan diatas secara simultan dan longitudinal. Untuk memecahkan persoalan teknis menggunakan elemen pengembangan suberdaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara teknis dari berbagai dukungan dari aksesnya kepada sumber sumber daya yang dapat dijangkau. Sedangkan untuk memecahkan persoalan idilogis adalah melalui elemen berpikir kritis. Hal ini merupakan bagian proses penggugatan dan pemerdekaan diri dari dominasi piker yang membelenggu dan menindas dirinya. Seadang untuk mengatasi persoalan dikawasan structural melalui elemen organisasi dan kontrol kebijakan sebagai media advokasi diri akan hak hak dasarnya.

Apa Methode dan Media yang dapat untuk Pemberdayaan Rakyat?

Metode pemberdayaan rakyat hampir berbanding terbalik dengan metode pembangunan masyarakat. Diamana proses tidak dimulai dari mainstreaming atau bakuan yang dapat menjadi acuan semua masyarakat, tetapi semua entitas komunitas akan menemukan mainstreaming nya sendiri. Prosesnya dimulai dengan: (1) Penyadaran diri dan mengembangkan pikiran kritis untuk membongkar hegemoni pembangunan yang ada didirnya. (2) Melakukan analisa kritis terhadap berbagai fenomena lingkungan kehidupannya. (3) Menemukan berbagai persoalan strategis. (4) Dari persoalan strategis ini masyarakat didorong untuk menemukan tindakan tindakan strategis. (5) Muncul satu gerakan untuk mengkaji dan mengkritisi berbagai ilmu ilmu rakyat asli. (6) Mengelaborasi atau mengurai ilmu rakyat dalam aspek ontologisnya, ephistimologiny dan methodologinya. (7) Mengaktualisasi dan mensosialisasi ilmu rakyat sebagai acuan untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Adapun skema metode pemberdayaan dapat digambarkan sebagai berikut:









Untuk menceriterakan media pemberdayaan, saya akan menceritakan media pemberdayaan rakyata yang digunakan oleh Yayasan USC-SATUNAMA. Beberpa media yang digunkan adalah:

  • Media pertanian organisk. Media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu pertanian rakyat.
  • Media pengadaan air bersih, media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang ekosistem.
  • Media kesehatan alami, media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang kesehatan rakyat.
  • Media ekonomi kerakyatan, media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang ekonomi rakyat.
  • Organisasi petani , sebagai media untuk pembelajaran dalam berorganisasi yang mengacu kepada perilaku demokratisasi, egaliter, transparan dan accountable.
  • Pendidikan kader kritis, ini media untuk menumbuhkan para aktivis pemberdayaan rakyat.
  • Radio komunitas, semagai media untuk mensosialisasi dan mempromosikan ilmu ilmu local.
  • Dongeng dan perpustakaan keliling untuk anak, ini sebagai media transformasi, mensosialisasi dan mempromosikan ilmu ilmu local bagi generasi penerus.
  • Kesenian rakyar sebagai media untuk mengkritisi dan mensosialisasi dan mempromosikan ilmu ilmu local.
  • Majalah tiga bulanan, sebagai media untuk membangun kesadaran kritis para intelektual organic.

Persoalan apa yang muncul dalam Pemberdayaan?

Persoalan yang muncul dalam pemberdayaan adalah ada di dua tataran. Tataran pertama berada pada persoalan konseptual. Apakah pemberdayaan itu merupakan lanjutan developmentalisme atau bagian lain dari developentalisme itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini sesungguhnya mudah, lihat saja apa acuan dan orientasinya! Apakah acuan dan oreintasinya masih pada modernisasi ? atau tidak? Kalau orientasi dan acuan dasarnya masih mengacu kepada modernisasi, berarti jargon pemberdayaan masih merupakan kelanjutan developing dan bagian lain dari kawasan itu. Oleh karena itu harus jernih dalam menghadirkan orientasi dan acuannya. Persoalannya ketika kita melihat acuan local non modernisasi sebagai acuannya, kita ada hambatan untuk mengelaborasi dan mengaktualisasi ilmu ilmu local dalam hal onotlogi (inti keilmuan), episthemologi (landasan keilmuan) dan methodology (bagaimana penerapannya). Hambatan itu muncul akibat kurangnya keseriusan kita, nara sumber dan materi materi dasarnya.

Persoalan yang akan muncul di pemberdayaan adalah persoalan teknis relasi. Karena sebagian besar masyarakat telah terhegemoni oleh modernisasi sebagaiacuan dan ukuran kualitas kehgidupannya. Sehingga ketika kita ingin ada perubahan keluar dari hegemoni itu akan ada banyak pertentangan di masyarakat itu sendiri. Kongkritnya banyak masyarakat yang suadah tidak mempercayaai lagi ilmu ilmu aslinya sebagai acuan kehidupannya. Oleh karena itu banyak sekali para aktivis pemberdayaan di lapangan tumbang akbat persoalan teknis ini.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar