Selasa, 26 April 2011

TEKNIK MEMBERDAYAKAN DIRI SENDIRI

Fajar Sudarwo (Mas Jarwo)

Mengenal Diri Sendiri

Ketika tulisan ini kususun, saya dalam kondisi sedang duka ditinggal ayah kandungku tercinta untuk selama lamanya. Lebih lebih belum segenap satu tahun adiku yang aku sayangi juga meninggalkanku dari dunia nyata ini. Sungguh satu ujian bagi saya sebagai seorang motivator masyarakat. Hampir setiap hari pekerjaanku memotivasi orang selama lebih dari 20 tahun. Namun sejak kecil saya belum berhasil untuk memotivasi diriku sendiri. Berbagai teknik memotivasi diri telah aku lakukan namun sungguh berat memotivasi diri ini. Kadang saya malu dan hampir putus asa pada diriku sendiri, mengapa saya berani memposisikan profesiku sebagai motivator warga sedangkan memotivasi diriku sendiri masih jatuh bangun.

Tulisan ini sesungguhnya untuk diriku sendiri, namun apa salahnya saya postingkan ke umum agar bisa diberi masukan oleh orang orang yang menyayangi diriku. Sejujurnya saya sedang dalam kondisi down sekali. Ternyata dari pengenalanku pada diriku belum selesai. Saya terlalu sombong dan lalai pada diriku, mengapa selama ini saya lebih tertarik untuk mengenali warga masyarakat dan orang lain dari pada diriku sendiri? Oleh karena itu saya mencoba untuk mengurangi kesombongan dan kelalaian tersebut. Walaupun dalam teori pengenalan diri yang pernah disampaiakan Pak Johari bahwa manusia mempunyai indentitas yang hanya bisa dikenali dirinya tidak lengkap dan semestinya dilengkapi oleh orang lain. Namun pada saat ini saya mencoba melakukan “simulasi dan mengempati” dimana saya mencoba untuk menjadi diriku dan menjadi diri orang lain yang mengenali diriku.

Sebagai motivator saya berusaha untuk mengerti dan memahami berbagai cara untuk mengenal diri, mulai dari golongan darah, waktu detik kelahiran, weton hari kelahrian, pasaran hari kelahiran, bulan (zodiac) kelahiran, musim ketika lahir, tahuan (sio) kelahiran, garis tangan, warga kulit, warna rambut dan sifat rambut, warna bola mata, letak tai lalat, jumlah dan letak “uyeng-uyeng di kepala”, bentuk dagu, bentuk wajah, bentuk tubuh dan sebagainya. Semua yang ada pada tubuhkan saya analisis dalam perspektip spiritual. Dalam perspektip spiritualitas-ku bahwa semua yang ada pada diriku adalah merupakan karunia Allah Yang Maha Esa dan Maha kasih. Karunia itu saya kelola dan saya optimalkan untuk mendukung visioning dalam pikiran dan saya topang dengan penumbuh kembangkan kekuatan hatiku yang kuhiasi dengan serba keriangan dan senyum terkembangku, hal itu sebagai upaya untuk mengurangi semua kerisauan dan berbagai kehawatiran.

Hasil analisisku terhadap diriku melalui tanda tanda yang ada ada diriku sebagai karunia Allah, ternyata saya mendapat tantangan untuk menguatkan kelemahan dan kerentananku, mengubah keburukan yang ada pada diriku menjadi lebih maik, dan menutup dan menambah berbagai kekurangan yang ada padaku. Saya berusaha memantapkan dan mengukuhkan kembali hati dan pikiranku untuk menjadi master semua yang ada pada diriku. Ketika master diriku kulantik kembali maka mulailah dia bekerja mengorganisir apa yang ada pada diriku.

Membangun Komunikasi dengan Sang Pencipta, Sebagai Kekuatan Master diriku

Master diriku selalu mengalami stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan hidup yang saya alami. Saya tidak bijaksana kalau persoalan tersebut saya tumpahkan pada master diriku saja atau kuserahkan pada orang lain. Karena master diriku mempunyai keterbatasan dan kelemahan kalau terus menerus didera oleh berbagai persoalan hidupku. Juga tidak mungkin ada orang lain yang terus sabar dan tekun menjadi tempat curahan dan keluhan keluhanku. Oleh karena itu hanya pada yang membuat hidupku saja semua kucurahkan dan kudialogan kapanpun dimanapun saya suka dan membutuhkan.

Saya sadar mendapat anugrah dan karunia berupa emosi yang cepat meledak dan memicu kemarahan. Master diriku sangat sulit sekali mengendalikan emosiku yang sering meledak ledak dan kemarahanku yang liar. Maka untuk membantu master diriku saya selalu membangun komunikasi untuk mendapatkan energy dari Allah untuk mengatur dan mengelola melalui peningkatan daya sang master diriku itu.

Saya adalah tipe manusia yang suka berkarya, namun sedikit sekali yang langsung berhasil dan sukses. Sehingga master diriku sering meletakan jabatannya atau berputus asa. Pada detik detik meletakan jabatan master tersebut, master diriku melakukan tibang terima dengan Yang Maha Kuasa. Dari sanalah ternyata sering mendapatkan mandat baru baik untuk melanjutkan atau diberi mandat yang berbeda sama sekali.

Sebagai pelatih manajemen sumberdaya manusia, ternyata dalam kesehariannya semua yang saya rencanakan sering tidak terlaksanakan bahkan sering sekali terjadi berbagai peristiwa yang terjadi diluar perencaan dan dugaanku. Master diriku sering sekali mengalami kebingungan bahkan mengalami “disorientation”. Pada saat itulah saya menyerahkan master diriku pada kehendak yang Illahi. Ketotalitasan master diriku kuserahkan kepadaNya, ternyata semua peristiwa yang tidak terduga dan tidak terencana menjadi bagian penting dalam kehidupanku.

Sejak lahir kata Ibuku saya mempunyai daya tahan tubuh yang lemah, sering sakit sakitan bahkan mentalku sejak kecil adalah penakut, minder dan sering merasa rendah. Dengan kelemahan dan kerentananku itu saya mempunyai tingkat ketergantungan yang sangat tinggi dengan penciptaku. Tiada detik yang sampai saya terlepas dariNya. Hanya perlindungan dan kekuatan dari Nya, saya masih bertahan sampai sekarang tanpa harus banyak merepotkan para medis dan dokter.

Berbagai nasehat yang aku terima dari para seniorku bahwa orang yang mengenali dan menjiwai kelemahan dan kekurangan dirinya. Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri. Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri sendiri. Berkomunikasi dengan Sang Pencipta kehidupan ini ternyata dari pengalamanku dapat meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Kata para akhli spiritualitas, bahwa seseorang yang dalam hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana seharusnya dikembangkan.

Bersohabat dengan Keberuntungan

Tulisan ini adalah bukan tulisanku namun saya mendapat dari kawan yang dermawan posting di google. Tulisan ini penting untuk diriku sebagai pendongkrak kondisi mastr diriku yang sedang down. Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial-bermasalah. Memang Ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Berdasarkan hasil penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial. Keempat faktor tersebut adalah:

Pertama; Sikap terhadap peluang orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Sebaliknya, kelompok Orang yang sial memiliki perasaan dan sikap yang lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.

Kedua; Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “good feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Ketiga; Selalu berharap kebaikan akan datang Orang yang beruntung ternyata selalu bersikap positif terhadap kehidupan. Berprasangka dengan optimis bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.

Keempat; Mengubah hal yang buruk menjadi baik, Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Jadi, menurut Profesor Richard Wiseman, rahasia orang yang beruntung adalah cukup sederhana. Dikatakannya, hampir semua orang normal juga bisa beruntung. Termasuk anda. Apakah sudah Siap mulai menjadi si Untung? First, Open your Mind, and Enjoy your life……

Mencari daya dukung;

Ketika master diriku sedang dalam kondisi down, saya selalu mencari berbagai daya dukung dari sumber sumber yang saya anggap tepat pada diriku. Salah satu sumber itu saya ambil dari tulisan Joe Gatuslao di google sebagia berikut:

Mana kala apa yang kita pikirkan tidak tepat, TUHAN berkata, “TIDAK.”
Tidak – kala pemikiran itu bukan pemikiran yang terbaik
Tidak – kala pemikiran itu sama sekali salah
Tidak – walaupun pemikiran tersebut mungkin saja dapat menolongmu, namun juga akan menimbulkan masalah bagi orang lain

Mana kala waktunya tidak tepat, TUHAN berkata, “PERLAHANLAH.”
Apa jadinya kelak bila TUHAN menjawab setiap doa secepat kita menjentikkan jari-jari kita? Tahukah engkau apa yang akan terjadi?
Tuhan akan menjadi hambamu, bukan Tuanmu.
Tiba-tiba saja TUHAN mengabdi kepadamu, bukan engkau yang mengabdi
kepada-NYA.

Mana kala engkau berbuat kesalahan, TUHAN berkata, “BERTUMBUHLAH.”
Orang yang mementingkan dirinya sendiri harus bertumbuh di dalam ketidak-egoisan.
Orang yang terlalu berhati-hati harus bertumbuh di dalam keberanian.
Orang yang suka menguasai orang lain harus bertumbuh di dalam kepekaan.
Orang yang senang mencela harus bertumbuh didalam tenggang rasa.
Orang yang selalu berpikiran negatif harus bertumbuh di dalam sikap positif.

Orang yang senang mencari kepuasan jasmani harus bertumbuh di dalam berbagi rasa dengan orang-orang yang menderita.

Mana kala semuanya telah benar, TUHAN berkata, “PERGILAH.”
Mukjizat terjadi:
Pecandu berat alkohol dilepaskan.
Pecandu obat bius menemukan kebebasannya.
Yang ragu-ragu menjadi percaya layaknya seorang anak kecil.
Jaringan tubuh yang terkena penyakit mulai menjadi sembuh karena pengobatan.

Pintu yang menuju ke arah impianmu tiba-tiba terbuka dan berdirilah Tuhan di sana sambil berkata, “PERGILAH!”

Ingatlah:
Penundaan oleh TUHAN bukan berarti pengingkaran janji TUHAN.
Waktunya TUHAN sempurna adanya.
Kesabaran adalah yang kita perlukan dalam berdoa.

Ketika saya selesai menulisan ini, master diriku bangkit kembali…semoga anda yang ikut membaca tulisanku ini juga bisa membangkitkan master diri anda untuk tetap tergar dan tangguh…Amin

Bojonegoro, 26 April 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar