Selasa, 26 April 2011

Pemberdayaan Melaui Ruang Belajar Warga

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Pemberdayaan Masyarakat Melaui Ruang Belajar Warga

Fajar Sudarwo[1]

MENGAPA PENTING PENGUATAN MASYARAKAT

Saat ini masyarakat Indonesia dan termasuk Kabupaten Bantul Propinsi D.I.Yogyakarta sudah saatnya untuk serius menguatkan masyarakat. Kalau penguatan masyarakat sampai terlalaikan niscaya bangsa Indonesia akan “hilang bersama angin” seperti yang telah diprediksi oleh Kibut nya bangsa Israel. Dalam ceritera Kibut, bahwa masyarakat yang lemah; hedonis (memanjakan diri), konsumeris (suka belanja), pragmatis (hanya mementingkan kenikmatan / kemanfaatan sesaat), instan ( tidak tekun dalam berproses), dan berekonomi rente atau maklar, masyarakat tersebut akan tergilas oleh roda globalisasi dan pasar bebas.

Ketika masyarakat lemah maka akan menghasilkan para pemimpin yang tidak jauh dari karakter para pemilihnya. Akibatnya negara yang semestinya menjadi pelindung dan pengayom tidak mampu berbuat apapun untuk menolong warga negaranya. Negara akan menjadi bulan bulanan dan bahan olok olokan semata, demokrasi akan menjadi ajang perebutan uang politik, hukum akan menjadi pelindung kalangan berada (the have), pendidikan akan menjadi indutri ijazah untuk memuaskan warga yang punya, kesehatan menjadi hal yang mahal, peluang kerja dan usaha swasta menjadi pilihan kedua karena hampir semua angakatan kerja muda lebih suka berebut sebagai aparatusnya negara. Seni budaya tereksploatasi menjadi pasokan industri hiburan dan hura hura, agama bisa menjadi pilihan untuk kekuatan memaksa kehendaknya, kaum mayoritas bisa menjadi kaum yang arogan dan menindas sesamanya. Lokalitas bukan lagi modal kearifan alamnya namun bisa menjadi sejata untuk mendiskriditkan pendatangnya.

Ketika masyarakat lemah, kemiskinan bukan lagi aib dan kenistaan namun menjadi identitas untuk menuntut “hak hak” nya agar mendapat bantuan dan berbagai perhatian bagi dirinya. Sebaliknya bantuan yang diberikan bukan lagi untuk meningkatkan kualitas hidup yang menerima, namun lebih menjadi alat tebar pesonanya. Akibtnya si penerima menjadi malas dan manja, si pemberi mengumpulkan investasi sosial untuk basis politiknya. Warga hidup dalam mimpinya yang berakibat besar pasak dari pada tiangnya. Jalan pintas menjadi pilihannya walaupun penjara itu muara akhirnya itupun kalau sudah kalah dalam bergaining politiknya. Warga negara mudah diajak bermimpi ria baik kemasan idilogi dunia maupun idiologi agama, akibatnya bom di mana mana dan hipnotis menyebar luas bagaikan sambal petis pada orde lama.

Partispasi hanya di permukaanya, transparansi dan akuntabelitas baru ditingkat administrasinya sedangkan realitanya jauh berbeda. Uang bantuan dan hutang disamakan sama untuk memenuhi keinginannya bukan kebutuhannya. Begitu juga program pembangunan dan pemberdayaan realitanya sama hanya berbeda bahasa dan pilihan katanya. Akibatnya kemandirian jauh dimata yang ada adalah karakter ketergantungannya. Beberpa motivator usaha hampir sama dengan para penjual busa, sehingga yang laris adalah cara gila untuk kaya, dan modal hutang untuk kesuksesanya.....luar biasa nekadnya. Sebagian fasilitator lebih serius mendampingi adminstrasinya dan project nya dari pada warganya, karena tenaganya lebih banyak untuk melayani atasnya dan terpaksa mengabiakan tugas dan fungsinya.

Lemahnya masyarakat karena; Pertama, traadisi belajar warga sudah “terganggu” oleh hingar bingarnya acara televisi di rumahnya. Akibatnya sinetron menjadi acuan hidupnya, gosip menjadi kesukaannya, kekerasan dan penistaan manusia sebagai hiburannya. Berita orang yang berprestasi diabaikan, berita orang sengsara dan menderita lebih di suka bukan untuk membantunya dan sekedar sebagai penontonnya. Kedua, pendidikan formal dan informal lebih berfokus pada skill ketimbang sikap dan penjiwaannya, dan materi belajar distandarisasi yang mengabaikan local soft knowlidge and local soft skill. Akibatnya dua faktor tersebut, hampir semua kehidupan warga diserahkan pada industri mulai pemenuhan makan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan kesenian.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI RUANG BELAJAR MASYARAKAT

Masyarakat yang lemah hanya salah satu obatnya yaitu dikuatkan dayanya atau diberdayakan dirinya. Pemberdayaan warga lebih mudah untuk topik diskusi dan seminar dari pada untuk dilakukan. Karena proses pemberdayaan bukan pekerjaan semuda membalik satu telapak tangan namun pekerjaan yang mendorong orang untuk uji keberanian dalam merubah sikap dan kebiasaanya. Penguatan masyarakat dari dalam dirinya cukup menyakitkan tidak seenak mendapat bantuan program pembangunan. Proses pemberdayaan bagaikan orang sedang berlatih olah raga angkat besi yang berlatih menanggung beban pada badanya. Ketika orang tidak pernah mengangkat beban berat, dia mencoba mengangkatnya maka akan kesakitanlah badanya. Secara spiritualitas pemberdayaan adalah proses melatih diri untuk menikmati kesakitan dan penderitaan untuk meningkatkan kualitasnya dan meningkatkan dayanya. Dengan demikian proses pemberdayaan masyarakat juga proses melatih masyarakat untuk menambah dayanya yang biasanya akan terjadi konstraksi yang terasa membawa penderitaan. Maka dari itu inti dari proses melatih warga untuk berdaya adalah dengan mentradisikan kemabli adanya ruang belajar masyarakat itu sendiri. Tanpa ada tradisi belajar di dalam masyarakat, proses pemberdayaan akan lebih banyak memberi stimulant. Stimulant yang tidak diimbangi dengan proses belajar akan membubung kembali sebagai bentuk bantuan bantuan pembangunan.

Makna belajar itu sendiri menurut para akhli pendidikan adalah perubahan berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya. Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang diterima - hadiah atau hukuman - sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut. perasaan bangga dalam diri karna dapat mengerti dan paham akan apa yang di pelajari.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta belajar dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan sumber belajar agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta belajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Disisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat peserta belajar dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta belajar. Proses pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara sumber belajar dengan peserta belajar. Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi dan kreativitas peserta belajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan sumber belajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan peserta belajar.

Hakikat Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Pemberdayaan

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang peserta belajar yang aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan sumber belajar kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh peserta belajar itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi. Hal terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, peserta belajar yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar peserta belajar secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan peserta belajar akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif peserta belajar sehingga belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar. Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan. (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky (Karpov & Bransford, 1995), yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran betbasis kegiatan, dan penemuan. Empat prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya telah memegang suatu peran penting. Salah satu diantaranya adalah penekanannya pada hakekat sosial dari pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa peserta belajar melalui interaksi sesawa warga belajar dengan. Pada proses kooperatif, peserta belajar dihadapkan pada proses berfikir sesama warga. Vygotsky memperhatikan bahwa pemecahan masalah yang berhasil berbicara kepada diri mereka sendiri tentang langkah-Iangkah pemecahan masalah yang sulit. Dalam kelompok kooperatif, siswa lain dapat mendengarkan pembicaraan dalam hati ini yang diucapkan dengan keras oleh pemecah masalah dan belajar bagaimana jalan pikiran atau pendekatan yang dipakai pemecah masalah yang berhasil ini.

Aspek-Aspek Pembelajaran Konstruktivistik Pemberdayaan Masyarakat

Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut diadaptasi terhadap lingkungan yang dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Aspek ssimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.

Aspek Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Ruang belajar masyarakat dalam perspektip pemberdayaan menggunkan penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Sebaliknya, pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan, masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar.

Metode Pembelajara effektip untuk pemberdayaan

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib dilakukan dalam proses pemberdayaan. Karena ia merupakan kunci sukses untuk menemukan visioning dirinya, mengenali potensi dirinya dan ketepatan untuk mengambil berbagai input stimulantnya. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.

Metode Debat;

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran dalam proses pemberdayaan masyarakat yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan daya pikir dan daya emosi peserta belajar. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Peserta belajar dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, peserta belajar (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan.

Metode kooperatip

Pada dasarnya metode ini memfokuskan pada proses pembelajaran kooperatif, materi ajar yang menjadi pokok bahasanya memungkinkan peserta belajar saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada peserta belajar dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing;


Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta belajar. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan peserta belajar dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing adalah (1) melibatkan seluruh peserta belajar dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. (2) peserta belajar bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. (3) Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).


Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih peserta belajar menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.


Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation);


Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan peserta belajar sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para peserta belajar untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills).

. Metode seni budaya

Metode seni budaya biasanya menggunakan media trasdisonal adalah media pembelajaran warga yang sangat bagus untuk pembentukan karakter kuat atau karakter masyarakat yang berdaya. Seperti Dongeng adalah salah satu media tradisional yang pernah popular di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Di berbagai daerah di Indonesia, media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk dan sifat, sejalan dengan variasi kebudayaan yang ada di daerah-daerah itu. Misalnya, tudung sipulung (duduk bersama), ma’bulo sibatang (kumpul bersama dalam sebuah pondok bambu) di Sulawesi Selatan (Abdul Muis, 1984) dan selapanan (peringatan pada hari ke-35 kelahiran) di Jawa Tengah, boleh dikemukan sebagai beberapa contoh media tradisional di kedua daerah ini. Di samping itu, boleh juga ditunjukkan sebuah instrumen tradisional seperti kentongan yang masih banyak digunakan di Jawa. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan yang mengandung makna yang berbeda, seperti adanya kematian, kecelakaan, kebakaran, pencurian dan sebagainya, kepada seluruh warga masyarakat desa, jika ia dibunyikan dengan irama-irama tertentu.

Media tradisional dikenal juga sebagai media rakyat. Dalam pengertian yang lebih sempit, media ini sering juga disebut sebagai kesenian rakyat. Dalam hubungan ini Coseteng dan Nemenzo (dalam Jahi, 1988) mendefinisikan media tradisional sebagai bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka dengan maksud menghibur, memaklumkan, menjelaskan, mengajar, dan mendidik. Sejalan dengan definisi ini, maka media rakyat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988). Nurudin (2004) mengatakan bahwa membicarakan media tradisional tidak bisa dipisahkan dari seni tradisional, yakni suatu bentuk kesenian yang digali dari cerita-cerita rakyat dengan memakai media tradisional. Media tradisional sering disebut sebagai bentuk folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara; Cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng); Ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah); puisi rakyat, nyanyian rakyat; teater rakyat; Gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta); Alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang); Alat bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).

PERLUNYA KERJASAMA PEMDA, PELAKU PNPM DAN OMS

Program penguatan masyarakat sulit akan berhasil kalau hanya dilakukan tanpa ada kerja sama dari berbagai pihak. Karena program ini mempunyai tantangan yang cukup besar baik dari luar masyarakat maupun dalam masyarakat sendiri. Kerja sama yang dibutuhkan adalah kerja sama yang sistematis dan terstruktur dan berkelanjutan. Kerja sama yang sitematis adalah pola kerja sama yang masuk dalam governance yang menjadi standard operasional kerja setiap elemen. Kerjasama terstrukutur adalah kerja sama yang terdefrensiasi dalam berbagai fungsi fungsi keberadaan antar elemen. Sedangkan berkelanjutan adalah adalah alur kerja sama yang berproses secara terus menerus. Adapun hal hal yang menjadi faktor strategis dalam kerja sama adalah;

Kerja sama dalam perencanaan; pada tahap perencanaan sangat diperlukan adanya kerjasama antar elemen untuk penguatan masyarakat. Lebih lebih sistem perencanaan desa saat ini sudah menggunkan “satu desa satu perencanaan”. Dengan demikian program penguatan masyarakat harus masuk dalam perencanaan Pemerintah, Pelaku PNPM dan Organisasi Masyarakat sipil. Secara manajerial seluruh strukur perencanaan mulai dari goal, purppose dan objective sudah termakdub dalam perencaan masing masing elemen. Dalam perencaan sudah tertera secara teknis tentang output, indikator dan alokasi pendanaanya.

Kerja sama dalam publikasi; publikasi untuk program program penguatan masyarakat sangat memerlukan kerja sama yang kongrit. Karena publikasi adalah merupakan proses sosialisasi kepada piublik. Bentuk publikasi untuk program penguatan masyarakat yang paling tepat adalah menggunakan pendekatan konsultasi publik. Proses pelaksanaan konsultasi publik ini sangat memerlukan kerja sama dari berbagai pihak pemangku kepentingan. Kerja sama ini penting untuk membangun kesepemahaman makna, kesepemhaman tujuan, hasil dan proses. Masing masing pihak mempunyai peran yang berbeda dan pemelilihan media yang berbeda pula, namun harus mempunyai kesepahaman dalam makna.

Kerja sama dalam pengembangan kelembagaan; program penguatan masyarakat selalu dibutuhkan percepatan pengembangan kelembagaan untuk mengimbangi dinamika persoalan dan kebutuhan masyrakat. Percepatan pengembangan kelembagaan sangat diperlukan kerjasama simbiose mutualistis antar lembaga untuk saling mempercepat pengembangannya. Apa bila percepatan perkembangan kelembagaan tidak imbang justru akan menjadi faktor penghabat dalam proses pelaksanaan penguatan masyarakat itu sendiri.

Kerja sama dama pelaksanaa kegiatan; Program penguatan masyarakat selalu membutuhkan berbagai bentuk dan jenis kegiatan. Oleh karena itu dalam teknis pelksanaanya diperluka kerja sama antar pemengku kepentingan untuk mengkontribusikan sumberdayanya baik manusia, pengetahuan, teknologi dan pembiayaan. Setiap pemangku kepentingan mempunyai kelemahan dan keunggulan yang melekat pada dirinya> oleh karena itu dalam peksanaan program antar lebaga mampu memberi peran dan fungsi yang saling mengisi dan saling memberi sehingga terjadi sinergisasi dalam proses pelaksanaan program penguatan masyarakat.


[1] Fasilitaor Pemberdayaan Masyarakat- IRE, IGGRD, PFPM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar