Jumat, 15 Oktober 2010

PEMBERDAYAAN WARGA DI WILAYAH BENCANA

PEMBERDAYAAN WARGA DI WILAYAH BENCANA

INVOLVMENT EVACUATION STRATEGY

DALAM PENANGANAN BENCANA MERAPI UNTUK

MASYARAKAT DAERAH RAWAN BENCANA

Fajar Sudarwo (Mas Jarwo)

Pola Bencana Lereng Merapi

Pola bencana Gunung api Merapi adalah merupakan bencana yang terus menerus membayang bayangi masyarakat lereng merapi di empat wilah kabupaten; Magelang, Boyolali, Klaten dan Sleman. Pola bencana seperti itu mempunyai implikasi sebagai berikut: Pertama, korban tidak akan spektakuler yang dapat menyentuh solidaritas di tingkat nasional dan dunia. Kedua, ada kejenuhan team relawan dan para dermawan yang memberikan bantuan. Hal ini disebabkan kurun waktu dan frekuensi nya tinggi. Ketiga, energy pemerintah daerah akan tersita secara continue untuk menanganinya. Keempat, akan membangun rasa tidak aman yang terus menerus bagi warga di daerah rawan bencana. Kelima, material yang dihasilkan dari Gunung Merapi merupakain material ekonomis baik untuk pertanian, perkebunan dan kehutanan maupun untuk bahan bangunan. Keenam, profile dan karakter Gunung Merapi menjadi obyek wisata multy dimensi yang dapat menjadi daya tarik wisatawan baik domestic maupun luar negeri.

Pola bencana Gunung api Merapi yang seperti diatas sebaiknya harus menggunakan konsepsi ekosistem. Dimana Gunung Merapi dengan “berkah” dan “bencana” nya adalah merupakan satu kesatuan kehidupan masyarakat sekitarnya. Untuk masyarakat Jogjakarta, Merapi adalah bagaian dari unsure kehidupan manusia Jogajakarta itu sendiri. Dimana Merapi (unsure api), Laut selatan (unsure air), keratin Jogjakarta (unsure udara) adalah trinitas kekuatan yang menjadi “kekuatan” masyarakat Jogjakarta. Oleh karena itu gunung merapi adalah sudah dianggap kekuatan dan sumber keberkahan masyarakat bukan merupakan sumber bencana dan malapetaka.

Fakta yang selalu terulang.

Gunung merapai telah berkali kali meletus bahkan ada yang mencatat setiap lima sampai enam tahun sekali, namun penanganannya masih tetap menggunakan standard penanggulangan bencana secara konvensional. Secara umum pola penangannya adalah evakuasi calon maupun korban baik secara mandiri maupun instruksi otoritas pemerintah. Persoalan penanganan bencana secara konvensional adalah : (1) Koordinasi yang kacau baik di dalam instansi pemerintah maupun antara pemerintah, Polisi, Tentara dan lembaga lembaga non pemerintah. (2) Keterlambatan atau ketidak tepatan bentuk dan cara pemberian bantuan. (3) Ketidak merataan distribusi dan pembagian bantuan. (4) Kekurangan dana dan logistic untuk kebutuhan para pengungsi. (4) Keamanan baik harta yang ditinggal maupun yang dibawa pengungsi. (5) Terjadinya berbagai penyimpangan para pelaksana baik oleh pemerintah maupun organisasi pemerintah. (6) Munculnya berbagai ketidak puasan dari para korban (pengungsi) dan munculnya implikasi social lainnya.

Pada kasus untuk mengantisipasi meletusnya Gunung Merapi saat ini (sejak tanggal 12 April 2006 dinyatakan berstatus siaga). Pemerintah mempunyai pola baru dalam penanganan bencanan. Pola ini menggunakan pola satu komando dimana Bupati sebagai Kepala Daerah Tingkat II menjadi pemegang pemimpin secara mutlak. Tiga kabupaten (Klaten, Magelang, dan Boyolali) menggunakan pola evakuasi konvensional murni. Sedangkan kabupaten Sleman menggunakan pola penanganan bencana berbasis perangkat pemerintah Kabupaten Tingkat II. Pola kerja Kabupaten Sleman dalam menangani bencana Gunung Merapi adalah: (a) Mempersiapakan jalur evakuasi untuk dilewati truk untuk menjemput warga yang akan di evakuasi. (b) Pada status siaga satu, disediakan truk untuk mengevakuasi warga. Kendaraan tersebut siap beserta sopir. Konsepnya warga yang akan dievakuasi paling jauh dari kendaraan pengangkut maksimal satu kilometer. (c) Difasilitasi kandang ternak ungsian (sapi / kambing) diwilayah DRB (Daerah Rawan Bencana) II dan I. Dalam posisi siaga I semua hewan “berharga” dievakuasi. (d) Disediakan tenda pengungsi di wilayah DRB (Daerah Rawan Bencana) II dan I. Pada posisi siaga satu dievakuasi semua warga renta (perempuan hamil, orang tua, orang sakit, anak-anak dan bayi). Pada posisi awas seluruh warga dievakuasi di tenda pengungsian.

Persoalan muncul di barak pengungsian untuk empat kabupaten, persoalan utama adalah kejenuhan (kebosanan) pengungsi karena menunggu waktu “meletus” nya Gunung Merapai. Tidak ada alat dan perhitungan apapun yang dapat memprediksi secara tepat kapan meletusnya. Khusus Kabupaten Sleman jumlah pengungsi tetapnya tidak sebanyak kabupaten lain. Karena jumlah pengungsi tetapnya adalah hanya warga renta. Namun persoalan teknis hampir sama dengan kabupaten lainnya.

Strategi saat ini untuk jangka pendek

Pertanyaan setiap pengungsi, pemerintah, organisasi dan masyarakat yang peduli warga lereng merapi adalah: “Sampai kapan status siaga I akan berlangsung?”. Kalau pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan jelas, maka pola evakuasi seperti diatas akan melelahkan, mengeluarkan biaya, tenaga, pikiran yang tidak sedikit dan tidak ada yang mampu mengantisipasi jumlah yang dibutuhkan. Persoalan lain solidaritas dari masyarakat luas belum bisa berdatangan karena meletusnya gunung belum terjadi. Sementara para pengungsi dibarak semakin resah, gelisah membutuhkan “perhatian” yang terus menerus secara fisik dan psikhologis. Oleh karena itu perlu aksi setrategis sebagai berikut:

  1. Relawan desa yang menjadi lokasi barak pengungsian didamping untuk menggerakan solidaritas masyarakat memberi perhatian kepada pengungsi di barak.
  2. Merecruit relawan yang mau dan potensial menjadi pendamping para relawan desa. Fungsi utama relawan ini adalah sebagai community organizer (CO) untuk mendamping desa yang menjadi lokasi barak pengungsi dan khususnya menjadi fasilitator para relawan desa tersebut.
  3. Memberi pembekalan dasar berupa short course kepada para relawan yang menjadi CO. Hal ini penting karena untuk menjadi relawan yang berperan sebagai CO cukup berat yang memerlukan berbagai ketrampilan yang harus ditopang oleh komitmen dan keseriusan yang tinggi.
  4. Mengembangkan supoorting sytem untuk memberi backstopping para CO dalam operasionalnya baik dalam hal instrument, media, skill, knowledge dan biaya operasional dasar.
  5. Membangun akses ke berbagai sumber daya baik instansi pemerintah, non pemerintah baik local, regional dan nasional untuk mendukung supporting system.

Strategi untuk jangka panjang

  1. Melakukan pendampingan pemberdayaan masyarakat untuk wilayah DRB II dan DRB I. Pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan semangat solidaritas warga agar para keluarga yang “longgar” jiwa dan materinya mampu menampung para pengungsi DRB III ketika status merapai dalam posisi Siaga dan awas. Secara statsistik jumlah warga DRB III dibandingkan DRB I dan II adalah I : 16, dimana 16 keluarga DRB II dan I dapat menopang dan menyelamatkan satu keluarga dari DRB III.
  2. Untuk mendampingi pemberdayaan DRB merapi menggunakan pendekatan CO, dimana peran dan fungsinya adalah membangun gerakan social untuk involvement evacuation ketika gunung merapi dalam status siaga dan awas.
  3. Secara teknis, keluarga keluarga DRB II dan I yang terselektip menjadi “rumah singga”, dibantu membuat kamar tidur dan MCK agar dapat menampung satu keluarga. Proses pembangunannya melibatkan calon calon keluraga DRB III yang kemunginan membutuhkan pengungsian.
  4. Begitu juga untuk pengungsian hewan / ternak juga menggunakan involvement evacuation, dimana ternak pengungsi masuk ke kandang ternak keluarga DRB II dan I.
  5. Kompensasi warga DRB III kepada warga DRB II dan II, adalah menjaga dan melestarikan mata air, lahan rumput dan ikut gotong royong dalam proses pembangunan warga di DRB II dan I.
  6. Untuk mensitumlant solidaritas warga DRB II dan I, dapat dikembangkan berbai program seperti program peningkatan pendapatan untuk memperkuat kemampuan mereka dalam menampung para pengungsi DRB III. Dana ini bisa diambil dari APBN, APBD atau program LSM untuk penanggulangan bencana merapi.
  7. Program ini akan lebih baik kalau diterapkan di empat kabupaten (Sleman, Klaten, Boyolalai dan Magelang).
  8. Keunggulan program ini adalah adanya gerakan social rakyat untuk menolong dirinya secara terus menerus. Keunggulan lain adalah mengurangi berbagai persoalan pengungsian konvensional yang mendatangkan berbagai implikasi social yang tidak sederhana.

@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar