Selasa, 09 Juni 2009

Beberapa Kritik dan Kiat

Pengembangan Kewirausahaan

Fajar Sudarwo (Mas Jarwo)

Kewiraswastaan dalam PerspektipGlobal

Masyarakat sudah memasuki melinium global dimana logika kapital dan materi sudah memasuki seluruh elemen masyarakat dunia. Materi sudah menjadi ukuran segala galanya untuk perkembangan hidup manusia. Bahkan sebagian masyarakat menganggap materi adalah nabinya kehidupan dunia saat ini. Kalau ada manusia yang tidak mempunyai materi akan dianggap gagal dan tidak berarti dalam kehidupannya.

Gerakan globalisasi materi sudah memaksa manusia untuk berada dibawah bayang bayang kekuasaannya. Kewiraswastaan diambil dan disubordinasi oleh logika materi sebagai media perilaku manusia yang dapat secara cepat mendorong manusia untuk tergila gila kepada materi. Beberapa lembaga bisnis Internasional telah memandu dan mengajari perilaku kewiraswastaan untuk menguasai dan mendominasi berbagai sumberdaya demi terakumulasinya dan terkumpulnya basis materi pada dirinya. Sebut saja Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah memandu lahirnya berbagai organisasi dunia seperti GATS (General Agreement of Trade and Cervices – VIVENDI, SUEZ, THAMES, RWE, BYWATER, BECHTEL dan KELDA) yang menguasai air dunia, AOA (Agreement On Agricultural) yang menguasai pangan.

Acuan dasar perilaku kewiraswastaan saat ini adalah perilaku organisasi business Internasional yang sangat tamak, serakah dan mendominasi hajat hidup orang banyak untuk keuntungan dirinya. Oleh karena itu di Indonesia muncul berbagai wiraswasta yang mendominasi berbagai hajat hidup orang banyak, seperti para pemegang HPH, para penguasa produksi mineral dll. Semangat untuk menguasai sumberdaya itulah yang memacu para wiraswasta membangun kolusi, korupsi dan nepotisme dengan para penguasa pemegang kebijakan publik. Bahkan sekarang sudah sulit memisahkan mana yang wiraswasta dan mana yang pejabat publik. Perilaku yang seperti inilah yang akhirnya membawa petaka dan bencana yang berkepanjangan bagi masyarakat Dunia khususnya Indonesia.

Kewiraswastaan dalam perspektip Kultural

Ketika kita kembali pada nilai nilai budaya kehidupan manusia, baik di barat maupun di timur. Ada prinsip nilai universal bagaimana manusia membangun dan mengembangkan diri secara mandiri namun tidak mendominasi orang lain. Manusia berusaha dalam konteks ibadah, yaitu memperoleh ridho Allah, menjalankan hidup untuk kemaslahatan sesama. Sehingga materi penting sebagai sarana kehidupan untuk menuju kehidupan humanis bukan untuk mendominasi dan menguasai. Bukan manusia di posisikan sebagai hamba dari materi, tetapi justru materi yang diposisikan sebagai alat manusia untuk menuju kehidupan yang lebih humanis.

Kewiraswastaan dalam perspektip budaya adalah mempunyai lima pilar utama. Pertama, sebagai daya dorong manusia untuk menciptakan suatu karya yang bermanfaat untuk sesama manusia. Kedua, sebagai spirit untuk menambah keberanian dalam menghadapi resiko dalam memperjuangkan kebenaran dan cita cita. Ketiga, sebagai alat untuk menghitung dan mencermati semua perencanaan kehidupan yang lebih rasional. Keempat, meningkatkan kemampuan untuk mengempati terhadap berbagai kepentingan manusia, sehingga karya karyanya adalah merupakan karya yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Kelima, sebagai kontrol diri agar tidak hedonis (memanjakan diri), tidak konsumtip, tidak “boros” dalam kehidupannya.

Kewiraswastaan dalam Perspektip Pemberdayaan diri.

Substansi pengertian manusia yang berdaya adalah manusia yang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara kritis, mampu mengakses ke berbagai sumber daya, dan ikut memberi sumbangan terhadap proses tatanan social yang lebih baik. Kewiraswastaan dalam perspektip pemberdayaan ada beberapa elemen dasar sebagai berikut:

Pertama, kemampuan untuk memenihi kebutuhan dasar secara kritis. Artinya kebutuhan manusia banyak dikonstruksi oleh kemauan industri melalui media massa yang sangat intens memprovokasinya. Semua kebutuhan yang ada dikepala manusia banyak merefrensi kepada iklan iklan yang ada pada Televisi, Radio, Poster, dan Spanduk. Misalnya saja kebutuhan alat pembersih diri, sebagian manusia meniru iklan iklan sabun dan sampo. Sehingga ketika ditanya kebutuhan tentang alat pembersih sebagian besar masyarakat akan menunjuk sabun. Apakah tidak ada alternatip lain selain sebum? Begitu juga dengan pakaian, perumahan sampai kesehatan, hampir kebutuhan manusia diwarnai oleh suara suara iklan industri.

Kedua, mampu menganalisis secara kritis terhadapa berbagai usaha atau karya yang akan dilakukan. Aapakah usaha usaha itu benar benar menguntungkan dirinya atau justru menguntungkan pihak lain? Contohnya, para peternak ayam ras, dimana mulai dari bibit, obat, makanan, peralatan sampai pasar sangat tergantung dengan pihak luar. Maka secara perhitungan ekonomis usaha ini sebetulnya lebih menguntungkan pihak diluar peternak sendiri. Dengan kata lain para peternak hanya sebagai buruh murah industri poltry.

Ketiga, mampu mengakses kepada pusat pusat suberdaya khususnya permodalan dan teknologi. Para wiraswasta diharapkan mampu dan trampil berkomunikasi dengan pusat pusat sumberdaya publik. Seperti Bank, transportasi, teknologi dan lain sebagainya. Hal ini penting untuk menjaga agar pusat pusat sumber daya tersebut tidakbanyak dimanfaatkan oleh pihak asing. Contoh di Indonesia banyak sumber daya yang telah diakses oleh pihak asing dari pada oleh masyarakat Indonesia, seperti listrik, mineral, frekkuensi udara dll.

Keempat, kemampuan untuk mengelola sumberdaya secara efektip dan effisien. Artinya ketrampilan menejemen menjadi sangat penting sebagai wiraswasta. Menejemen adalah suatu proses untuk mencapai tujuan secara systematis dan berkesinambungan. Barbagai perkembangan menejmen perlu dikritisi sehingga dapat memilih instrumen yang paling tepat untuk diterapkan. Berbagai menejemen telah berkembang sesuai dengan dinamika perkembangan khidupan manusia. Bahkan sampai saat ini berbagai modul pelatihan menejemen kewiraswastaan terus diperbaiki. Terutama dalam model kepemimpinan kewiraswastaan saat ini banyak menggunakan leadership by vision dan tran-formative leadership.

Kelima, kemampuan menciptakan pasar. Pada perkembangan terakhir ketrampilan pasar kewiraswastaan bukan saja mampu membaca pasar tetapi kemampuan untuk menciptakan pasar. Sebab tanpa ada kemampuan untuk menciptakan pasar, para wiraswasta hanya akan didikte oleh para penguasa industri yang bermain dibalik kekuatan media massa. Dengan demikian akan memberi peluang kepada masyarakat untuk dikonstruksi pihak lain akan kebutuhan kebutuhan dasarnya.

Keenam, kemampuan untuk membangun kepercayaan. Ada beberpa strategi untuk membangun kepercayaan antara lain: (a) Menjaga integritas pribadi yang konsekuen, jujur dan bertanggung jawab. (b) Mampu menemukan kekhasan diri untuk membangun image positip keberadaannya. (c) Mengembangkan open management, sebagai bentuk transparansi segala transaksi keuangannya kepada stakeholder. (d) Bernai melakukan public accountability. Artinya ada keberanian mempertanggung jawabkan kepa masyarakat luas terhadap penggunaaan suberdayanya.

Ketujuh, mempunyai kemampuan untuk membangun karakter diri yang tidak mudah menyerah dalam kesulitan. Sebagai contoh para wiraswastawan di Thailand lebih kuat menghadapi krisis ketimbang masyarakat Indonesia. Ada seorang pengusaha Thailand yang malamnya sebagai direktur mengumumkan bahwa perusahaannya bangkrut, pagi harinya sudah membuka usaha makanan martabak di depan bekas kantornya. Kalau pengusaha Indonesia sebagian besar kalau bangkrut tidak cepat bangkit, tetapi justru putus asa.

Kedelapan, mampu mengorganisir manusia yang tidak menopang pada elemen: (a) Modal atau uang. Banyak manusia tidak dapat mengorganisir orang tanpa ditopang oleh modal atau uang. Seorang wiraswasta tanpa ditopang elem inipun mampu. (b) Otoritas keilmuan. Banyak manusia tidak dapat mengorganisir orang tanpa ditopang oleh otoritas keilmuannya. Seorang wiraswasta tanpa ditopang elem inipun mampu. (c) Kekuasaan, Banyak manusia tidak dapat mengorganisir orang tanpa ditopang olehkekuasaan. Seorang wiraswasta tanpa ditopang elem inipun mampu.

@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar