Selasa, 09 Juni 2009

PERUT RAKYAT MENGGUGAT

Fajar Sudarwo (Mas Jarwo) [*]

Dua minggu terakhir pemberitaan di media massa baik Koran dan TV menyuguhkan berita mulai mewabahnya penyakit flu burung di sekitar wilayah Joga dan diprediksi minggu ini akan memasuki Jogjakarat. Sementara Pemkab Sleman terforsir kepada persoalan dirinya mulai pejabatnya yang sedang terkena kasus korupsi, anggaran routin dari pos BBM meningkat, pengalokasian APBD untuk meneruskan pembangunan Stadion, sedangkan anggota DPRD sampai DPR Pusat lebih kosentrasi bagaimana memperoleh anggaran untuk dirinya. Terus rakyat siap yang memikirkan dan melindungi dalam baying baying kerterpurukan multy dimensi?

Mau menjerit tidak ada yang mendengar, mau mengeluh tidak ada yang memperhatikan, menangis? Air mata sudah kering.

Hari hari ini rakyat memasuki masa “panik” yang luar biasa, tidak ada satupun tawa dan senyum ketenangan. Bagaimana rakyat tidak sumpek dan gelisah? Biaya pendidikan sekolah anak yang melambung mencekik leher, sementara para pejabat sekolah beserta Dewan Sekolahnya sibuk menghitung hitung dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang akan turun agar tidak mengurangi iuran atau apalah namanya dari orang tua siswa. Rakyat mau sakit? Jangan…! Biaya pengobatan mahal karena rumah sakit swasta sampai pemerintah termasuk Puskesmas sudah berorientasi bisnis---yang swasta berlomba mencari pemasukan untuk memayar hutang bank---yang pemerintah dikejar untuk memberi masukan Pendapatan Asli Daerah. Ironis luar biasa banyak daerah bangga memperoleh pendapatan asli daerah dari rakyat sengsara yang lagi sakit! Sementara banyak direktur rumah sakit memperoleh penghargaan karena berprestasi mendatangkan keuntungan untuk perusahaannya atau yayasannya dari rakyat yang “sekarat” luar dalam. Harga kebutuhan pokok lambat tetapi pasti merangkak naik meninggalkan daya beli yang dimiliki rakyat. Sementara harga produksi pertanian, kerajinan dan upah tenaga kerja tidak pernah ada perlindungan. Bahkan untuk para buruh kecil, sedang menunggu harap harap cemas mendapat pemberitahuan PHK dari perusahaannya karena tidak ada jaminan dan perlindungan hukum bagi mereka. Sementara korban PHK, kerusuhan social, bencana alam masih menumpuk terlantar tidak terperhatikan!

Kebohongan demi kebohongan selalu disuguhkan. Mulai dari rumah---menonton dan mendengarkan TV dan radio hanya kebohongan dan penipuan, mengikuti kumpulan RT hanya mendengar ambisi tokoh masyarakatnya yang merencanakan berbagai program yang ujung ujung nya menguras dompet rakyat yang udah “bokek”. Mengikuti musyawarah pembangunan desa, hanya mengulang berbagai kebutuhan dan rencana pembangunan yang pernah dibicarakan tetapi sedikit yang direalisir---alasan klasik dana pembangunan tidak cukup, karena rata rata lebih dari 60% APBD, terserap untuk pembiayaan operasioanl dirinya (biaya pegawai, fasilitas, perjalanan dinas dll), sementara anggaran APBN disamping terserap untuk biaya routin juga untuk membayar hutang. Masih terngiang ditelinga rakyat kampanye calon pejabat mulai presiden, gubernur, bupati sampai kepala desa dan kepala dusun hanya janji janji yang tidak pernah ditepati. Semua menjanjikan “perubahan”, tetapi perubahan apa yang didapat rakyat setelah mereka menjadi pejabat? Hanya perubahan harga kebutuhan pokok dan pelayanan public yang semakin memberatkan rakyat.

Perut mual, kepala pusing, hati nelongso itulah profile rakyat Indonesia saat ini! Pemimpin dan wakil rakyat yang telah dipilih dan didukung secara demokratis ternyata tidak mampu membawa perubahan nasib rakyat biasa. Berbagai pidato, pengumuman sampai penjelasan para priyayi agung pangembating projo yang dilahirkan dari rahim demokrasi rakyat justru semakin hari semakin menyakitkan dan mengecewakan rakyat. Sudah muak dengan berbagai penjelasan yang sok sistematis, sok simpatik, sok ilmiah---tetapi ujung ujungnya rakyat harus menjadi korban dan rela menderita untuk membayar kobodohan dan kebohongan para pejabat dan birokrasi. Rakyat sudah membaca dan mempunyai feeling---apa maunya pemerintah! Tidak usah basa basilah! Toh rakyat sudah terbiasa menderita dan susah! Sebetulnya semua penjelasan dari pemerintah maunya agar rakyat siap dan tidak berontak karena; (a) Dikurangi berbagai subsidinya; (b) Membayar biaya mahal unit pelayanan public yang di privatisasi/swastanisasi, sehingga unit tersebut bisa lebih professional dan mendatangkan keuntungan negara. (c) Siap memasuki liberalisasi dalam kerangka perjanjian global (Seperti perjanjian dengan WTO, IMF, Bank Dunia, ADB dll) yang tidak adil; (c) Mengikuti deregulation untuk memberi kemudahan para investor dan penanam modal kan? Rakyat---sudah tahu diwaktu dekat akan ada kenaikan BBM, kenaikan Pajak Listrik, Kenaikan Pajak Kendaraan, Kenaikan Pajak Tanah dan bangunan, Kenaikan Pajak Telpon, Kenaikan pajak usaha sampai kenaikan biaya administrasi orang mau meningkahkan anaknya!

Hai para priyayi agung pengembating projo!...Rakyat mu sudah penuh perutnya kemasukan berbagai racun dari makanan hybrid dan transgenic! Demi mendukung kolehamu pedagang dan pemilik industri makanan. Rakyat mu sudah terperas tenaganya menjadi buruh murah, demi menguntungkan kolehamu investor dan pemilik modal. Rakyat mu sudah tidak punya apa apa lagi terkuras habis akibat kebohongan iklan – iklan industri kolehamu yang memenuhi acara TV, Radio, dan Surat Kabar yang sebetulnya berada dibawah control mu. Rakyatmu sudah menjadi dungu karena dibodohi melalui system pendidikan yang kamu rusak dengan berbagai kebijakan yang menguntungkan perusahaan buku, perusahaan pakain sekolah, perusahaan peralatan/ teknologi sekolah dan para pejabat sekolah. Rakyat mu sudah muali tergusur dari tanah warisan leluhurnya karena demi untuk lahan industri, perumahan mewah, olah raga dan rekreasi para kaum berada (the have). Nelayan-mu sudah terpinggirkan oleh pemilik pukat harimau sehingga hanya mampu mengais sisa sisanya dengan biaya mahal karena BBM dan onderdil perahu nya yang semakin mahal harganya. Rakyatmu sudah terpinggirkan mengais makan dari pasar karena terpinggirkan oleh supermarket dan mall-mall besar. Rakyatmu sudah dijauhkan dari religiusitasnya karena istitusi agama dan adat sudah kalian campurkan dengan kepentingan politik praktis dan bisniss.

Sudah...blak-blakan saja hai para priyayi agung pengembating praja! Tidak usah plintat-plintut, sudah tidak usah malu malu, sudah tidak usah ewuh pekewuh dan tidak usah gengsi. Ngomong!... Ngomong saja kepada rakyatmu. Jangan khawatir dan takut takut kepada rakyatmu. Rakyatmu adalah ibu kandungmu yang tidak akan pernah habis kasih sayangnya, tidak pernah akan tega untuk tidak memaafkanmu, dengan kata lain emosi rakyat dengan negara adalah tega warase ora tega larane, tega larane ora tega matine. Artinya rakyat pasti akan arif dan legowo kalau harus mananggung kesalahan dan dosa dosa mu! Asal...blak blakan saja kepada rakyatmu. Karena Rakyat bagaikan Ibu yang sudah tahu masalah anaknya yang tidak pernah diomongkan terus terang. Mengapa tidak pernah berterus terang? Karena materi persoalannya adalah tentang ”perselingkuhan”. Rakyat sudah tahu kena apa para wakil rakyat dan pejabat tidak mendengarkan suara rakyat? Karena para pangembating praja berselingkuh (tanpa sepengetahuan rakyat) mendengarkan dan mengikuti pesan (melalui penjelasan para konsultan dengan bahasa ilmiah) dari kepentingan IMF (International Monetary Fund), WTO (World Trade Orrganization), Bank Dunia, ADB (Asian Development), TNC (Trans National Corporation) karena merekalah yang dianggapnya menjadi saka guru perekonomian dan pembangunan negara. Di tingkat praktis para pemimpin dan politisi setelah menjadi pejabat mengikuti kepentingan para penyandang dananya yang sebagaian besar adalah para pelaku ekonomi rente (lebih sebagai broker ketimbang sebagai pelaku produksi dan jasa yang memberi nilai tambah ekonomi).

Kesabaran rakyat sebagai ibu bangsa dan negara sudah diambang batas, jangan menunda nunda lagi berterus terang (transparan) kepada rakyat. Jangan sampai kekecewaaan rakyat menggelinding menjadi ketidak percayaan rakyat kepada negara. Sebab percayaan rakyat adalah modal keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Kalau sampai rakyat menjatuhkan talak dan sepertai ibu nyupatani anaknya yang durhaka, maka kehancuran dunia akhirat yang akan ditemui di kemudian hari. Begitu juga kalau kalau tidak secepatnya para aparatus negara bertobat dan mengaku dosa kepada rakyatnya, bangsa ini tinggal menunggu waktu kehancurannya. Seperti banyak di prediksi para akhli bahwa Indonesia akan hilang dibawa angin --- jangan terjadi ya Allah Indonesiaku gon with wind!

****



[*] Aktivis LSM Tinggal di Jogja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar